Jumat, 26 Juni 2026

Kenapa Al-Qur'an Mengumpamakan Pengikut Hawa Nafsu Seperti Anjing yang Menjulurkan Lidah ?


 


Kenapa Al-Qur'an Mengumpamakan Pengikut Hawa Nafsu Seperti Anjing yang Menjulurkan Lidah ?

https://budayajahiliyah.blogspot.com/2026/06/kenapa-al-quran-mengumpamakan-pengikut.html?m=1


Al-Qur’an adalah kitab suci yang kaya akan tamsil atau perumpamaan. Melalui metafora, Allah Ta'ala sering kali meminjam sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya untuk menjelaskan konsep spiritual yang rumit agar lebih mudah dicerna oleh nalar manusia. Namun, dari sekian banyak perumpamaan, ada satu ayat yang menggunakan analogi yang sangat menohok, bahkan terkesan ekstrem bagi sebagian orang.

Dalam Surat Al-A'raf ayat 176, Allah mengumpamakan orang yang menyimpang dari kebenaran demi menuruti hawa nafsunya seperti seekor anjing yang selalu menjulurkan lidahnya (yalhats).

Berikut adalah teks lengkap potongan ayat tersebut beserta maknanya:

فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ

"...Maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami..." (QS. Al-A'raf: 176)

Mengapa Allah memilih analogi spesifik ini? Jika kita membedahnya melalui pendekatan tafsir, psikologi manusia, dan sains modern, kita akan menemukan sebuah kebenaran yang mengerikan tentang potret jiwa manusia yang diperbudak oleh dunia.

1. Simbol Ketidakpuasan yang Abadi (Mentalitas Selalu Kurang)

Karakter utama anjing yang disorot dalam ayat ini adalah kestabilan perilakunya dalam satu hal: menjulurkan lidah (yalhats). Anjing melakukan itu bukan hanya saat ia lelah setelah dikejar atau diusir, tetapi juga saat ia sedang diam, santai, kenyang, maupun lapar.

Inilah metafora sempurna bagi pengikut hawa nafsu. Mereka memiliki penyakit psikologis bernama insatiable desire—keinginan yang tidak pernah bisa dipuaskan.

• Diberi harta, mereka ingin lebih.

• Diberi jabatan, mereka takut kehilangan dan mencari yang lebih tinggi.

• Diberi peringatan agama atau dibiarkan begitu saja, kondisi batin mereka tetap sama: gelisah, haus, dan tidak pernah merasa cukup (qana'ah).

2. Kondisi Jiwa yang "Kepanasan" dan Kehausan

Secara biologis, seluruh ras anjing di dunia memiliki keterbatasan anatomi yang unik: mereka tidak memiliki kelenjar keringat fungsional (merokrin) di seluruh kulit tubuh mereka yang berbulu. Kelenjar keringat pembuang panas mereka hanya terletak di area yang sangat sempit, yaitu di bantalan cakar kaki (paw pads).

Karena cakar kaki tidak cukup untuk membuang panas tubuh yang besar, satu-satunya mekanisme utama bagi semua anjing untuk bertahan hidup dari kepanasan adalah dengan terengah-engah (panting) sambil menjulurkan lidah. Melalui cara inilah air liur di lidah mereka menguap dan menurunkan suhu inti tubuhnya.

Secara spiritual, pengikut hawa nafsu berada dalam kondisi batin yang serupa dengan anatomi anjing tersebut. Jiwa mereka selalu "kepanasan" oleh ambisi duniawi yang membakar dada. Karena tidak memiliki "kelenjar iman dan syukur" di dalam hatinya untuk mendinginkan batin, mereka mengalami dehidrasi spiritual yang permanen. Mereka terpaksa meniru tabiat anjing: terus terengah-engah dan menjulurkan lidah karena jiwanya selalu merasa dahaga akan materi, pengakuan, dan kekuasaan.

3. Kehinaan yang Konsisten dalam Segala Situasi

Potongan ayat "jika kamu menghalaunya ia menjulurkan lidah, jika dibiarkan ia menjulurkan lidah juga" menggambarkan hilangnya prinsip hidup. Seekor anjing tidak berubah perilakunya baik saat diperlakukan buruk maupun baik.

Manusia yang telah menjual idealisme dan agamanya demi kesenangan sesaat akan kehilangan harga diri. Di depan orang kaya mereka menjilat, di depan orang miskin mereka angkuh. Saat kondisi ekonomi sulit mereka mengeluh, saat makmur mereka serakah. Tidak ada stabilitas iman dalam diri mereka; situasi apa pun hanya memicu satu reaksi: pemuasan nafsu.

4. Catatan Kritis: Bukan Penghinaan terhadap Makhluk, melainkan Kritik Atas Tabiat

Penting untuk dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman objektif: Al-Qur'an tidak sedang merendahkan eksistensi anjing sebagai makhluk ciptaan Allah. Dalam ayat lain, Al-Qur'an justru memuji anjing berburu yang terlatih (QS. Al-Ma'idah: 4) dan mengabadikan kesetiaan anjing Ashabul Kahfi (QS. Al-Kahfi: 18-22).

Para ulama menjelaskan bahwa analogi dalam surat Al-A'raf ini menggunakan metode Zammul Washfi (mencela sifat/tabiat tertentu), bukan Zammul 'Aini (mencela wujud makhluknya). Anjing menjulurkan lidah adalah fitrah biologisnya yang tidak berdosa karena ia tidak diberi akal. Namun, ketika tabiat "selalu terengah-engah dan tidak pernah puas" itu justru diadopsi oleh manusia yang berakal, di sinilah letak kehinaan yang hakiki.

Penutup: Sebuah Tamparan Keras untuk Nalar Kita

Perumpamaan ini awalnya ditujukan kepada Bal'am bin Ba'ura, seorang ulama di zaman Nabi Musa yang memiliki ilmu tinggi, namun goyah iman karena tergiur harta dan dunia. Sifatnya abadi dan berlaku untuk siapa saja hingga hari ini.

Allah menggunakan analogi yang keras ini untuk memberikan tamparan bagi ego manusia. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam bentuk paling mulia (ahsani taqwim). Namun, ketika manusia yang telah diberi akal, ilmu, dan petunjuk justru memilih untuk merangkak turun dan menghamba pada syahwatnya, derajat mereka jatuh serendah-rendahnya.

Ayat ini adalah cermin besar bagi kita semua: Apakah hidup kita saat ini tenang karena bersyukur, atau jangan-jangan kita sedang terengah-engah seperti anjing yang menjulurkan lidah, lelah mengejar dunia yang tidak akan pernah ada habisnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bukti Kezhaliman Akun Facebook Layla S Terhadap Islam Selasa, 14-07-2026

Bukti Kezhaliman Akun Facebook Layla S Terhadap Islam Selasa, 14-07-2026 Dengan tautan profil : https://www.facebook.com/share/18oWMRku97/ ...