Kamis, 05 Februari 2026

Ketika Permata Agama dianggap Debu dan Debu Budaya Jahiliyyah dianggap Permata

Ketika Permata Agama dianggap Debu dan Debu Budaya Jahiliyyah dianggap Permata



Sebuah kondisi di mana kompas nilai dalam masyarakat mengalami infiltrasi atau pembalikan.

Kondisi ini biasanya digambarkan sebagai masa di mana esensi spiritual (permata agama) dianggap tidak berharga, sementara tradisi atau perilaku yang destruktif (debu jahiliyyah) dipuja-puja.

Berikut adalah beberapa perspektif mengenai fenomena tersebut:

1. Pergeseran Standar Kebenaran

Ketika "permata agama" dianggap debu, biasanya terjadi karena nilai-nilai agama dipandang sebagai penghambat kebebasan atau dianggap kuno (obsolet).

• Agama sebagai Beban: Aturan moral dianggap membatasi eksistensi diri.

• Formalisme: Agama hanya dilihat sebagai ritual lahiriah tanpa makna batin, sehingga orang kehilangan rasa hormat terhadap nilai luhurnya.

2. "Gemerlap" Budaya Jahiliyyah

Istilah Jahiliyyah tidak hanya merujuk pada masa sebelum Islam, tetapi juga pada kondisi psikologis dan sosiologis di mana hawa nafsu mengungguli akal budi.

• Materialisme Akut: Kesuksesan hanya diukur dari materi dan status sosial, meskipun didapat dengan cara yang menindas.

• Normalisasi Keburukan: Sesuatu yang buruk (seperti pamer kemewahan yang berlebihan, persaingan tidak sehat, atau pengabaian etika) dianggap sebagai standar gaya hidup yang baru dan keren.

3. Mengapa Hal Ini Terjadi?

Ada beberapa faktor yang memicu pembalikan nilai ini:

• Krisis Keteladanan: Ketika tokoh-tokoh yang seharusnya menjaga "permata" justru berperilaku tidak sejalan, masyarakat kehilangan kepercayaan.

• Pengaruh Media & Konsumerisme: Budaya massa sering kali membungkus "debu" dengan kemasan yang sangat berkilau, sehingga terlihat seperti permata.

• Kehilangan Akar Spiritual: Tanpa kedalaman ilmu, seseorang mudah tertipu oleh tampilan luar (casing) daripada isi.

Refleksi Akhir

Dalam banyak literatur kebijaksanaan, kondisi ini disebut sebagai fitnah zaman. Tantangan terbesarnya adalah keberanian untuk tetap memegang "permata" meskipun tangan terasa panas, dan kemampuan untuk melihat "debu" tetap sebagai debu meski ia diterangi lampu panggung yang megah.

"Akan datang suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti memegang bara api."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melestarikan Budaya Jahiliyah Seakan Tak Bertuhan

Melestarikan Budaya Jahiliyah Seakan Tak Bertuhan Melestarikan budaya jahiliyah diartikan sebagai seakan tak bertuhan karena perilaku terse...