Jumat, 06 Februari 2026

Melestarikan Budaya Jahiliyah Seakan Tak Bertuhan

Melestarikan Budaya Jahiliyah Seakan Tak Bertuhan



Melestarikan budaya jahiliyah diartikan sebagai seakan tak bertuhan karena perilaku tersebut mencerminkan pengabaian total terhadap petunjuk ilahi (moralitas agama) dan lebih mengutamakan hawa nafsu, kesombongan, serta pemujaan terhadap nilai-nilai yang merusak manusia.

Budaya jahiliyah bukanlah sekadar masa lalu, melainkan kondisi mental dan perilaku yang ditandai dengan kebodohan moral, kekejaman, dan kesombongan silsilah.

Berikut penjelasannya mengapa budaya ini seakan "tak bertuhan":

(1) Penyembahan Berhala Modern (Hawa Nafsu): Masyarakat Jahiliyah menyembah berhala fisik. Saat ini, budaya ini lestari dalam bentuk "penyembahan" berhala modern, seperti cinta harta berlebihan, ketenaran (narsisme), atau ideologi yang menempatkan manusia di atas aturan agama.

(2) Kebebasan Tanpa Moral (Amoralitas): Budaya jahiliyah ditandai dengan merajalelanya zina, judi, dan mabuk-mabukkan. Menganggap perilaku amoral sebagai hak asasi atau gaya hidup—tanpa peduli batasan halal-haram—adalah bentuk perbuatan yang seolah menolak adanya aturan Tuhan.

(3) Tribalisme dan Kesombongan (Ashobiyah): Membanggakan kelompok, suku, atau diri sendiri secara berlebihan, serta merendahkan orang lain, adalah ciri khas jahiliyah. Ini mengabaikan prinsip bahwa kemuliaan hanya milik Allah dan berdasarkan amal perbuatan.

(4) Hukum yang Tidak Adil: Tradisi jahiliyah cenderung menindas yang lemah (orang miskin). Tindakan yang memihak pada yang kuat dan menindas yang lemah—tidak adil—dianggap sebagai "hukum jahiliyah" yang mengabaikan keadilan Tuhan.

(5) Tabarruj dan Pakaian: Perilaku menampakkan perhiasan atau kecantikan secara berlebihan (Tabarruj Jahiliyah) untuk tujuan memamerkan diri, merupakan contoh pelestarian budaya jahiliyah yang diharamkan dalam agama.

Dengan demikian, melestarikan budaya ini berarti meninggalkan bimbingan moral Tuhan dan mengikuti dorongan kebodohan (jahil), yang membuat seseorang bertindak seolah-olah tidak ada pertanggungjawaban akhirat.

Data Untuk Bantahan Pemilik Akun FB Romadhon Ponco Basuki

Data Untuk Bantahan Pemilik Akun FB Romadhon Ponco Basuki


https://www.facebook.com/share/18DExF2owy/







Kamis, 05 Februari 2026

Ketika Permata Agama dianggap Debu dan Debu Budaya Jahiliyyah dianggap Permata

Ketika Permata Agama dianggap Debu dan Debu Budaya Jahiliyyah dianggap Permata



Sebuah kondisi di mana kompas nilai dalam masyarakat mengalami infiltrasi atau pembalikan.

Kondisi ini biasanya digambarkan sebagai masa di mana esensi spiritual (permata agama) dianggap tidak berharga, sementara tradisi atau perilaku yang destruktif (debu jahiliyyah) dipuja-puja.

Berikut adalah beberapa perspektif mengenai fenomena tersebut:

1. Pergeseran Standar Kebenaran

Ketika "permata agama" dianggap debu, biasanya terjadi karena nilai-nilai agama dipandang sebagai penghambat kebebasan atau dianggap kuno (obsolet).

• Agama sebagai Beban: Aturan moral dianggap membatasi eksistensi diri.

• Formalisme: Agama hanya dilihat sebagai ritual lahiriah tanpa makna batin, sehingga orang kehilangan rasa hormat terhadap nilai luhurnya.

2. "Gemerlap" Budaya Jahiliyyah

Istilah Jahiliyyah tidak hanya merujuk pada masa sebelum Islam, tetapi juga pada kondisi psikologis dan sosiologis di mana hawa nafsu mengungguli akal budi.

• Materialisme Akut: Kesuksesan hanya diukur dari materi dan status sosial, meskipun didapat dengan cara yang menindas.

• Normalisasi Keburukan: Sesuatu yang buruk (seperti pamer kemewahan yang berlebihan, persaingan tidak sehat, atau pengabaian etika) dianggap sebagai standar gaya hidup yang baru dan keren.

3. Mengapa Hal Ini Terjadi?

Ada beberapa faktor yang memicu pembalikan nilai ini:

• Krisis Keteladanan: Ketika tokoh-tokoh yang seharusnya menjaga "permata" justru berperilaku tidak sejalan, masyarakat kehilangan kepercayaan.

• Pengaruh Media & Konsumerisme: Budaya massa sering kali membungkus "debu" dengan kemasan yang sangat berkilau, sehingga terlihat seperti permata.

• Kehilangan Akar Spiritual: Tanpa kedalaman ilmu, seseorang mudah tertipu oleh tampilan luar (casing) daripada isi.

Refleksi Akhir

Dalam banyak literatur kebijaksanaan, kondisi ini disebut sebagai fitnah zaman. Tantangan terbesarnya adalah keberanian untuk tetap memegang "permata" meskipun tangan terasa panas, dan kemampuan untuk melihat "debu" tetap sebagai debu meski ia diterangi lampu panggung yang megah.

"Akan datang suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti memegang bara api."

Tahaddi Bagi Siapa Saja Yang Meragukan Keilahian الله dan Kebenaran Al-Qur'an


 


Tahaddi Bagi Siapa Saja Yang Meragukan Keilahian الله dan Kebenaran Al-Qur'an


1⃣ Al-Qur'an kalam Allah termasuk salah satu bukti adanya Allah. Al-Qur'an kandungan isinya sangat agung, berisi petunjuk al-haqq, bisa untuk ruqyah mengobati penyakit hati dan badan, lebih indah daripada syair serta mudah dihafal. Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa ia adalah wahyu dari Allah, dan menantang manusia untuk membuatnya.

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٢٣

"Dan jika kalian meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar." (QS. Al-Baqarah : 23).
Silahkan buat 1 surat yang bisa mengalahkan surat Al-Fatihah!

2⃣ Mubahalah bentuk tahaddi untuk konfirmasi kebenaran, yaitu tantangan untuk saling mendoakan keburukan bagi pihak yang salah. Sebagaimana pada surah Ali 'Imran : 61.

3⃣ Ka'bah memiliki Rabb yang senantiasa akan menjaganya dari apapun yang akan musuh perbuat terhadapnya. Allah Ta’ala berkalam :

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَۗ ۝٣٥

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala." (QS. Ibrahim : 35)

✍🏻 Dan sudah tercatat sejarah bahwa kota suci Yahudi dan Nashrani pernah dikuasai kaum muslimin. Dan di akhir zaman kelak Baitul Maqdis insya Allah akan kembali dikuasai lagi kaum muslimin. Sebagaimana dikabarkan Nabi. Silahkan buktikan rebut kota suci Makkah yang disitu terdapat Ka'bah sebagai qiblat. Apa kalian mampu???

Tantangan-tantangan ini merupakan bukti bahwa Islam berdiri di atas landasan burhan (bukti nyata), bukan sekadar klaim kosong.

تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْۗ قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝١١١ ( البقرة : ١١١ )

Leluhur Kaum Paganisme Yang Menuhankan Alam Semesta dan Menuduh Agama Islam Perusak Budaya Nusantara


 

Leluhur Kaum Paganisme Yang Menuhankan Alam Semesta dan Menuduh Agama Islam Perusak Budaya Nusantara


Manusia purba yang ditemukan di Jawa utamanya disebut Manusia Jawa (Java Man), yang secara ilmiah diklasifikasikan sebagai Homo erectus erectus (dulu Pithecanthropus erectus). Fosil ini ditemukan oleh Eugène Dubois di Trinil pada 1891. Selain itu, ditemukan juga jenis manusia purba tertua yaitu Meganthropus paleojavanicus dan Homo wajakensis.

Secara ringkas, perkembangan budaya pakaian manusia purba di Nusantara terbagi dalam tiga tahap utama:
• Zaman Batu Tua: Belum mengenal pakaian. Hanya menggunakan daun-daunan atau kulit binatang secara sederhana untuk melindungi tubuh dari alam.
• Zaman Batu Muda: Mulai menciptakan "kain" dari kulit kayu yang dipukul-pukul hingga halus (seperti tradisi kain Malo atau Tapa).
• Zaman Logam: Sudah mengenal teknologi tenun menggunakan serat tumbuhan dan menggunakan perhiasan perunggu sebagai simbol status.

Gambar ilustrasi budaya pakaian manusia purba

QS. Al-Baqarah Ayat 170

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَاۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ ۝١٧٠

Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “Tidak. Kami tetap mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek moyang kami.” Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka (itu) tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk?


Waspadalah Terhadap Ajaran Paganisme Gaya Baru


 

Waspadalah Terhadap Ajaran Paganisme Gaya Baru


Orang-orang yang menyembah matahari, bintang, bumi, dan alam semesta disebut sebagai penganut "paganisme" atau "penyembah alam" (nature worship). Dalam beberapa konteks, mereka juga disebut sebagai "pantheis" (pantheism), yang percaya bahwa Tuhan ada di mana-mana dan ada dalam segala sesuatu di alam semesta.

Kaum Paganisme Pada Umat-Umat Terdahulu

🔸 Kisah mengenai kaum Nabi Ibrahim yang menyembah benda-benda langit (bintang, bulan, dan matahari) diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai bagian dari metode dakwah beliau untuk membuktikan kelemahan sesembahan tersebut. Peristiwa ini diceritakan dalam Surah Al-An'am ayat 76-78

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًاۗ قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ ۝٧٦ فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ ۝٧٧ فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ ۝٧٨

🔸 Kisah mengenai Negeri Saba' yang penduduknya menyembah matahari. Pernyataan tentang penyembahan matahari ini merupakan laporan dari burung Hud-hud kepada Nabi Sulaiman mengenai Ratu Balqis dan rakyatnya. Sebagaimana dikisahkan dalam Surat An-Naml (27) Ayat 24 :

وَجَدْتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُوْنَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُوْنَۙ ۝٢٤


Melestarikan Budaya Jahiliyah Seakan Tak Bertuhan

Melestarikan Budaya Jahiliyah Seakan Tak Bertuhan Melestarikan budaya jahiliyah diartikan sebagai seakan tak bertuhan karena perilaku terse...